Langit bebisik mengatakan jika awan mulai lelah untuk menghangatnya dinginnya bumi. hamparan daratan bumi laksanakan tiada kehidupan, yang mati karena tiada nafas yang berhembus untuk setiap kedamaiannya. Pepohonan berjalanan menyusuri setiap yang tidak mungkin. Bayang-bayang kelam dan semua yang tertuang menjadi lautan abu yang tiada pernah tertepi.
Sang Air datang, untuk setiap kejernihannya, dia menertawkan Sang Naga Hari. Apakah peluhmu sendiri yang kini mulai mengkhianatimu? Bebatuan kerdil berucap, kaulah bintang-bintang di angkasa yang bebas menari dalam keindahanmu. Pasirpun berkata, "Kau ini pandai berucap, nihil makna". Bebatuan berkata, "Kau tiada pernah mengetahui makna kita embun sejukpun tiada pernah kau rasa". Pasir tiada pernah usai berucap, "Apalah kau ini, kau hanya mengetahui dan memahami dunia kau sendiri".
Hujan turun dengan derasnya, Sang Air penuh dengan keanggunannya berbisik kembali, "Kalian sebagaimana yang telah tertuang dan membasahi daratan ini, kemudian menjadikan setiap daratan ini Hijau dalam metamorfosa". Semua hengkang dan terdiam. Nyanyian burung menggema dalam sanubari. Burung yang kian berterbangan, dengan sayap moleknya yang mengibas mengarungi hamparan luasnya langit. Petir dengan beringasnya memecah keteduhan. Bebatuan pecah, raganya melebur dan menjadi satu pada pasir. Isak tangis bak rentetan musik yang menyuarakan keindahan.
Di setiap uraian air mata adalah keindahan pada hakikatnya sendiri. Keindahan yang hanya diketahui oleh setiap yang merasakannya. Dia mengalir membasahi jiwa yang kering menjadi dingin nan lembut. Kereta kencana membawa pergi setiap derai air mata, menelusuri bayang-bayang tak terilustrasikan. Menggugah fatamorgana menjadi tawa riang pepohonan. Bersorak dan berlari memainkan tari canda. Oh, betapa riangnya tangis itu.
Satu yang kemudian melebur, dan menjadi dua dalam satu. Tiada yang berbeda. Air yang menjelma pada setiap raut wajah Matahari. Menggelora bersama setiap hembusan nafas. Nafas itu adalah partikel yang hidup. Hidup melangkah dan bersuara di tepi Telaga. Nafasmu adalah kehidupan tiada batas ruang dan waktu, karena dia menjelma untuk menjadi yang berasa untuk setiap langkah kakinya.
Semoga selalui indah dalam setiap mannernya.
By
11 05 '17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar